Minggu, 12 Februari 2017

Hoax, Barcode, dan Kegagapan Membaca Realitas

Sekilas, barcode nampak sebagai solusi di tengah menjamurnya hoax. Dengan barcode, persoalan hoax seperti akan lenyap layaknya kutil yang dilumuri salep. Dengan barcode pula, seolah apa yang ‘benar’ akan menjadi clear and distinct. Meski begitu, kita mesti tilik apa yang ada di balik penerapan ini, mulai dari bagaimana negara—sebagai pihak pemberi barcode—memahami hoax dan kerangka apa yang digunakan. Jika kita tengok pernyataan Dewan Pers, maka hoax dianggap sebagai berita bohong dan nol-informasi. Konten ini direproduksi dan disebarkan secara luas dan massif oleh ‘oknum-oknum’ tak bertanggung jawab sehingga membuat orang-orang percaya. Sumbernya dialamatkan pada media-media non-mainstream yang dianggap tidak “kredibel”. Dari sini, kita patut bertanya: kalau memang hoax itu berasal dari media-media non-mainstream, apakah hal ini timbul begitu saja? Apakah betul kemunculan hoax berdiri sendiri secara terpisah dari relasinya terhadap media meinstream? Benarkah media mainstream tidak bertanggungjawab atas kemunculan hoax? Kenyataannya, di banyak tempat, media-media alternatif (yang tentu non-mainstream) timbul disebabkan kegagalan media mainstream dalam menjawab kebutuhan massa. Mereka berjarak dengan apa yang dibutuhkan rakyat dan berpaling pada pemaksimalan laba semata. Pemaksimalan ini juga tegak lurus dengan kedekatannya pada agenda-agenda politik elit. Lihat saja betapa banyaknya media yang dimiliki oleh politisi-politisi dan menjadi penopang agenda politik praktis mereka—bahkan ada yang mengiklankan himne salah satu partai setiap hari tanpa jeda. Baca Selanjutnya

Senin, 06 Februari 2017

Fakta Alternatif

DARI sekian banyak peristiwa yang mewarnai gelombang anti-Trump, ada satu fenomena menarik. Yaitu kembalinya novel George Orwell, 1984, ke jajaran buku terlaris, setidaknya di Amerika Serikat. Mulai dari New York Times, Telegraph, Guardian, dan bahkan sampai Detik di tanah air memberitakannya. Ia dipantik oleh petugas pers Gedung Putih yang menyatakan bahwa pelantikan Trump kemarin dihadiri oleh penonton terbanyak sepanjang sejarah. Dan, seperti nasib seluruh klaim ambisius, klaim ini pun tidak luput dari serbuan protes kontra-faktual yang berduyun-duyun membantahnya. Tidak berhenti di sini, penasihat Trump, Kellyanne Conway di kesempatan lain membela pesuruhnya itu dengan mengatakan bahwa yang disampaikan sang petugas pers sebenarnya adalah ‘fakta alternatif’. ‘Fakta alternatif’ inilah yang menjadi pemantik memori orang yang bacaan sastra wajibnya di sekolah adalah buku 1984 karya George Orwell. Baca Selanjutnya

Rabu, 25 Januari 2017

Obituari: Tentang George Junus Aditjondro

INTELEKTUAL-cum-aktivis, George Junus Aditjondro (GJA), wafat 10 Desember 2016 di kota Palu. Pengritik paling utama korupsi kepresidenan Orde Baru dan paska Orde Baru ini meninggal dalam usia 70 tahun. Jenazah figur, yang oleh majalah Time menyebutnya “the world’s leading authority on Suharto family wealth” dimakamkan 12 Desember 2016 di Pekuburan Kristen Talise, Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu. Catatan ini tentang kerja-kerja GJA sebagai intelektual publik di Sulawesi Tengah, sebuah provinsi pinggiran dalam peta ekonomi dan politik nasional. Minatnya paling utama di daerah ini adalah tentang kepentingan bisnis dan sengketa berbasis sumber daya alam, kekerasan bersenjata, dan hubungan antara keduanya. Dia menulis dengan sangat tajam soal kepentingan bisnis Siti Hartati Murdaya di Buol, Arifin Panigoro di Tiaka Morowali Utara dan keluarga Jusuf Kalla di Poso. Saya membatasi catatan tentang GJA di Sulawesi Tengah dalam dua kasus/tempat, yakni, tentang Lore Lindu, daerah yang sudah menarik perhatiannya sejak akhir dekade 1970-an dan tentang kekerasan Poso, salah satu episentrum kekerasan regional di nusantara hampir 20 tahun terakhir. Baca Selanjutnya

Selasa, 24 Januari 2017

Menguatnya Populisme: Trump, Brexit hingga FPI

KEMENANGAN Donald Trump di Pilpres AS, dan keinginan kelompok yang ingin Inggris keluar dari Uni Eropa (“Brexit”) di referendum Inggris mengejutkan, tapi tidak aneh. Keduanya bagian dari fenomena menguatnya populisme di negara-negara demokrasi Barat. Tren serupa juga menguat di Asia; Narendra Modi dan BJP di India serta Rodrigo Duterte di Filipina adalah dua contoh terakhir. Menguatnya dukungan pada kelompok Islam konservatif di Indonesia memiliki banyak karakteristik serupa dengan tren populisme global. Baca Selanjutnya

Selasa, 17 Januari 2017

Masihkah Politik adalah Panglima? Fardhu Kifayah Koperasi Syariah 212

SALAH satu capaian terpenting gerakan massa rakyat di Indonesia kontemporer, bagi saya, adalah peluncuran Koperasi Syariah 212 (KS212) pada Jumat, 7 Januari 2017 yang lalu di Sentul, Bogor. KS212 ini digagas dan dikawal pembentukannya, dengan melibatkan banyak elemen yang menjadi motor penggerak Aksi Bela Islam tanggal 2 bulan 12 (Desember) 2016 silam, oleh Dewan Ekonomi Syariah (DES) Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI). Dalam pembentukannya, disepakati juga bahwa Ketua DES, yang juga adalah anggota Dewan Pengawas Syariah, M. Syafi’i Antonio, sebagai Ketua KS212. Target KS212 sangat ambisius: 212 Miliar dalam 1 tahun, 2,12 Triliun dalam 3 tahun, dan 212 Triliun dalam 10 tahun. Tidak hanya ambisius, KS212 sangat optimis akan target ini. Baca Selanjutnya

Minggu, 15 Januari 2017

Seputar Jakarta Unfair

Banyak pertanyaan terkait disebutnya film Jakarta Unfair di dalam debat pertama calon Gubernur DKI (13 Januari 2017). Karena itu saya mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan- pertanyaan tersebut. Pertama, bila ada kandidat yang menggunakan film ini sebagai substansi kampanye atau menggelar nobar “Jakarta Unfair” (penggusuran) atau “Rayuan Pulau Palsu” (reklamasi) berarti dia telah “terjerat” kontrak sosial secara tidak langsung dengan isu-isu itu. Ini akan jadi instrumen kontrol publik saat dia berkuasa. Baca Selanjutnya

Jumat, 13 Januari 2017

Absurditas Islam Rahmatan lil 'Alamin Dalam Sistem Kapitalisme

Berangkat dari situasi historis dan politis yang menempatkan Islam sebagai agama yang paling dipersalahkan atas terjadinya berbagai teror yang melanda dunia, mendorong banyak kalangan intelektual Islam, terpanggil untuk turut mendudukkan makna Islam sesungguhnya, baik pada publik Islam sendiri, sebagai upaya pencegahan bangkitnya ekstrimisme, juga pada publik di luar Islam sebagai ikhtiar menepis tudingan yang keliru pada Islam. Di sinilah letak persoalannya. Kebutuhan untuk memperkenalkan Islam sebagai agama ramah, dan toleran via narasi Islam rahmatan lil 'alamin, meski telah memberi jawaban yang kokoh atas kegalauan berpikir di seputar tafsir dan praktik beragama yang fanatik, namun di sisi lainnya, justru telah mendegradasi universalitas rahmatan lil 'alamin itu sendiri, yang hanya berkutat pada persoalan pluralitas dan multikulturalitas. Universalitas dan keluasan aspek rahmatan lil 'alamin, tanpa disadari telah tergerus dan terkikis pengertian fundamentalnya sehingga berimplikasi pada bagaimana narasi ini hendak dioperasikan. Termasuk kegagalannya dalam menjawab persoalan yang lebih fundamental, yaitu skema besar penghancuran kemanusiaan secara global. Baca Selanjutnya

Rabu, 11 Januari 2017

Menakwil Penyikapan Mbah Maimoen atas Kasus Semen

Ngilu hati “al-faqir” menerima link wawancara Hadratussyaikh KH Maimoen Zubair (akrab dipanggil Mbah Moen) dengan mediaindonesia.com yang menegaskan secara eksplisit dukungannya kepada pendirian pabrik Semen di Rembang. Satu lagi pukulan telak, batin penulis, bagi rakyat Kendeng dan gerakan rakyat yang selama ini bahu-membahu untuk menolak pabrik demi kelestarian pegunungan Kendeng, dan satu lagi kartu As bagi pabrik Semen untuk berjumawa mendapat dukungan seorang ulama sepuh yang sangat disegani. Wawancara tersebut seakan meredam rumor yang simpang-siur tentang posisi Mbah Moen atas Semen. Baca Selanjutnya

Selasa, 10 Januari 2017

Kita dan Berita Hoax

SALAH satu peristiwa yang paling menonjol di tahun 2016 lalu, adalah mengemukanya fenomena berita-berita Hoax (berita yang diada-adakan alias palsu) di berbagai media dan terutama media sosial. Saking menonjolnya berita hoax ini, banyak yang berspekulasi bahwa kini kita hidup dalam masyarakat dimana kejujuran bertindak dan kejernihan berpikir telah hilang. Sebaliknya, saling tidak percaya dan curiga menjadi sesuatu yang wajar. Kita memang tidak bisa menyepelekan fenomena berita hoax ini. Banyak peristiwa-peristiwa tragis maha dahsyat yang terjadi di dalam sejarah manusia dipicu atau diperparah oleh produksi dan penyebaran berita hoax. Ambil contoh pembantaian manusia terbesar dalam sejarah dunia modern, yakni pembantaian kaum Yahudi di Eropa oleh rezim fasis Nazi-Hitler di Jerman pada dekade 1930an dan awal 1940an. Baca Selanjutnya

Senin, 09 Januari 2017

2017 dan Ujian Koalisi Jokowi

Konsolidasi politik yang dilakukan hampir di sepanjang tahun 2015, sedikit demi sedikit baru dirasakan hasilnya oleh pemerintahan Joko Widodo pada tahun 2016. Kekuatan politik koalisi yang di awal masa pemerintahan baru baranggotakan empat partai (PDI-P, Hanura, Nasdem, dan PKB) setengah (PPP) partai, di pertengahan tahun 2016 bulat terlembagakan menjadi tujuh partai. Dengan kekuatan politik lebih kurang menguasai dua pertiga kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), kontrol atas arah proses legislasi di DPR akan menjadi lebih mudah. Disahkannya Undang-Undang Pengampunan Pajak pada 28 Juni 2016 merupakan salah satu gambaran bahwa konsolidasi politik Joko Widodo telah mencicipi buah manisnya di tahun 2016. Baca Selanjutnya

Sabtu, 07 Januari 2017

Apa Itu Hoax?

Hoax menjadi perbincangan hangat di media massa maupun media sosial belakangan ini karena dianggap meresahkan publik dengan informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Istilah hoax, kabar bohong, menurut Lynda Walsh dalam buku "Sins Against Science", merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang masuk sejak era industri, diperkirakan pertama kali muncul pada 1808. Alexander Boese dalam "Museum of Hoaxes" mencatat hoax pertama yang dipublikasikan adalah almanak (penanggalan) palsu yang dibuat oleh Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift pada 1709. Baca Selanjutnya

Rabu, 04 Januari 2017

Hoax dan Tradisi Membaca yang Nyaris Punah

Membaca penting, bukan hanya soal ajaran dan perintah pertama dari agama yang saya peluk dan yakini, tetapi membaca juga soal titik pijak awal sebuah peradaban. Bagaimana mungkin, akan lahir peradaban agung dari generasi yang suka menyebar hoax, tanpa baca apalagi menalar dan melakukan verifikasi. Manalah mungkin, pengetahuan bisa diperoleh dari hanya sekadar memamerkan foto ratusan buku di rak yang diambil dari foto-foto di internet,  tanpa ikhtiar membeli dan membaca buku, atau minimal betah berlama-lama di perpustakaan. Baca Selanjutnya

Selasa, 03 Januari 2017

Operasi Onta Mencegah Masuknya Komunisme dari Timur Tengah

Rezim Orde Baru didirikan setelah menyingkirkan Sukarno dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dengan Supersemar (Surat Perintah 11 Maret), Jenderal Soeharto mengeluarkan kebijakan pertama yaitu membubarkan dan melarang PKI. Komunisme terlarang di negeri ini hingga saat ini. Rezim Orde Baru selalu mewaspadai komunisme baik di dalam maupun dari luar termasuk dari Timur Tengah. Di Irak, Suriah, Libya, Mesir, dan Yaman, komunisme pernah mendapat tempat dan memainkan peran politik penting pada 1960-an. Oleh karena itu, intelijen Indonesia menempatkan negara-negara tersebut bersama Uni Soviet, Korea Utara, dan Vietnam Utara, sebagai sumber potensial penyebaran komunisme. Baca Selanjutnya

Senin, 02 Januari 2017

Aktivis Dungu?

Saya tidak kenal orang bernama Muhammad Amin ini. Tapi ia mendaku sebagai “aktivis”, “penulis” sekaligus “entrepreneur”. Tampaknya beliau multitalenta, juga multitafsir. Menyebut Jakarta Unfair dibikin “aktivis dungu”, sebenarnya adalah parodi tafsir paling tidak lucu dari seseorang yang melabel diri “aktivis”. Pendapat macam ini justru bukan menasbihkan dirinya sebagai aktivis yang tidak dungu, namun lebih tampak bagi saya bahwa Amin jauh lebih dungu dari mereka yang ia serang. Mengapa? Nah, saya akan jelaskan beberapa alasannya. Sebagai kado Selamat Tahun Baru dari saya untuk kita semua. Baca Selanjutnya

Minggu, 01 Januari 2017

Ini Bedanya Konsep Right to be Forgotten di Indonesia dengan Negara Lain

UU No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tidak hanya mengubah ancaman pidana pada Pasal 27 ayat (3), namun juga terdapat penambahan norma baru mengenai ketentuan hak untuk dilupakan atau yang lebih dikenal dengan Right to be Forgotten. Di banyak negara, penerapan hak untuk dilupakan hanya sebatas pada mesin pencari (search engine) sementara di Indonesia penghapusan langsung terhadap konten yang tidak relevan. Secara konteks, cakupan informasi atau dokumen elektronik yang dapat dimohonkan penghapusan di Indonesia juga lebih luas, tak hanya terkait data pribadi. Baca Selanjutnya

Tahun Baru, Filosofi Waktu, dan Kita yang Rugi

Sejatinya, waktu bukan tentang detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan seterusnya. Waktu bukan kalender. Kalender itu imanen, dibuat manusia. Adapun waktu itu transenden, ciptaan Tuhan. Karenanya, jika waktu bersifat universal, maka tak begitu dengan kalender. Ada Kalender Masehi, Kalender Jawa, Kalender Thailand, Kalender Cina, dan Kalender Hijriyah. Karena sifatnya yang parsial, ketika kita merayakan Tahun Baru Masehi 2017 saat ini, maka tahun ini punya bilangan angka yang berbeda dalam kalender-kalender lainnya. Juga memiliki Tahun Baru yang berbeda waktu. Baca Selanjutnya

Sabtu, 31 Desember 2016

25 Desember 2016

di kendeng, Yesus datang di antara tenda ibu-ibu yang bersholawat
sepi berkecamuk di situ
tak ada ulama
hanya angin bebukit kapur yang kersang ditingkap petang

Yesus tunduk ketika selembar ayat terpelanting dari gumam:
“YaTuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, yaTuhanku.”

Baca Selanjutnya

Jumat, 30 Desember 2016

Apakah Non-Muslim Itu Kafir?

Baru-baru ini, seorang netizen dilaporkan ke polisi atas dugaan ujaran kebencian dan SARA karena menyebut pahlawan nasional non-Muslim sebagai kafir. “Di al-Qur’an, katanya, sebutan kafir untuk yang tidak beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Saya salah ikut al-Qur’an?” Demikian cuitan orang itu. Mengikuti al-Qur’an jelas tidak salah bahkan wajib bagi mukmin dan muslim. Yang salah adalah mengikuti seleranya sendiri memenggal al-Qur’an dan tidak memahaminya secara utuh berdasarkan ilmu. Al-Qur’an harus dipahami berdasarkan konteks dan pertalian antarayat (munâsabah), asbâbun nuzûl, penjelasan Nabi, nâsikh-mansûkh, serta memahami uslûb dan karakteristik ayat. Baca Selanjutnya

Kamis, 29 Desember 2016

Segadungan Apa Marhaenisme Gubernur Ganjar

“Mboten Korupsi lan Mboten Ngapusi”.
Masih ingat kalimat dari bahasa Jawa itu? Betul, itu jargon yang diucapkan terus-menerus oleh Ganjar Pranowo di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah untuk memilihnya menjadi gubernur periode 2013-2018. Jargon yang berlayar nyaris di semua bulan tahun 2013 itu tak hanya nyahnyoh di moncong putih nan suci para pelapak pemilu untuk kemenangan Ganjar, tapi juga menempel di spanduk, baliho, stiker, kaos, dan mungkin saja hingga dicap di cawat. Baca Selanjutnya

Rabu, 28 Desember 2016

Kini Jakarta Unfair Tersaji di YouTube

Film Jakarta Unfair yang memotret korban penggusuran Pemprov DKI di bawah pimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kini sudah bisa disaksikan melalui YouTube. Film dokumenter berdurasi 52 menit yang diproduksi oleh WatchDoc bersama komunitas film indie dan 15 relawan ini sebelumnya hanya bisa disaksikan melalui pemutaran film yang digelar lewat konsep nonton bareng. Film Jakarta Unfair sendiri sejak dirilis perdana pada 28 Oktober lalu telah diputar dilebih dari 50 kota di dalam dan luar negeri.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Cobalah Tengok

Daftar Isi