”Bunda, aku lapar,” rengek Melati.
Bundanya yang sedang bergelung di bawah kain lusuh di pinggir
jembatan layang Cawang berbalik menatapnya. “Melati lapar, Nak? Sabar,
ya… Sebentar lagi Bapak pulang. Mungkin ada sedikit makanan yang bisa
kau makan. Sekarang kita hitung bintang aja, supaya laparmu sedikit
berkurang.” Baca Selanjutnya
Kisah dari Lauje: Kapitalisme Tak Sekedar Kehilangan Tanah, Tetapi Bentuk
Formasi Ulang Kehidupan Petani di Perdesaan
-
Judul buku: “Kisah dari Kebun Terakhir: Hubungan Kapitalis di Wilayah Adat”
[judul asli: Land’s End: Capitalist Relation on Indigenous Frontier]
P...
3 minggu yang lalu