oleh Wijaya Herlambang
Di pertengahan 2007, boemipoetra, sebuah buletin budaya yang sangat sederhana, menyinggung pengaruh Congress for Cultural Freedom (CCF) di dalam dinamika kebudayaan Indonesia di tahun 1960an. Buletin yang digawangi penyair Wowok Hesti Prabowo dan Saut Situmorang itu meyakini bahwa hubungan antara CCF dan aktivis kebudayaan Indonesia adalah salah satu bentuk interaksi penting bagi terbangunnya tradisi kebudayaan liberal Barat di Indonesia. Sayangnya, karena kekurangan dana –yang berakibat pada minimnya jumlah halaman— boemipoetra terpaksa mengesampingkan analisis dan bukti-bukti yang memadai. Walaupun demikian, kritik ini penting sebagai titik tolak untuk meninjau kembali peran CCF di Indonesia. Apakah CCF dan seberapa jauh pengaruhnya bagi perkembangan kebudayaan modern Indonesia? Tulisan ini adalah sebuah refleksi singkat sejarah CCF dan interaksinya dengan aktivis kebudayaan di Indonesia. Lihat Selengkapnya
Kisah dari Lauje: Kapitalisme Tak Sekedar Kehilangan Tanah, Tetapi Bentuk
Formasi Ulang Kehidupan Petani di Perdesaan
-
Judul buku: “Kisah dari Kebun Terakhir: Hubungan Kapitalis di Wilayah Adat”
[judul asli: Land’s End: Capitalist Relation on Indigenous Frontier]
P...
3 minggu yang lalu